Monday, May 6, 2013

Burung Gagak dan Sebuah Kendi

Pada suatu musim yang sangat kering, dimana saat itu burung-burungpun sangat sulit mendapatkan sedikit air untuk diminum, seekor burung gagak menemukan sebuah kendi yang berisikan sedikit air. Tetapi kendi tersebut merupakan sebuah kendi yang tinggi dengan leher kendi sempit. Bagaimanapun burung gagak tersebut berusaha untuk mencoba meminum air yang berada dalam kendi, dia tetap tidak dapat mencapainya. Burung gagak tersebut hampir merasa putus asa dan merasa akan meninggal karena kehausan.

Kemudian tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Dia lalu mengambil kerikil yang ada di samping kendi, kemudian menjatuhkannya ke dalam kendi satu persatu. Setiap kali burung gagak itu memasukkan kerikil ke dalam kendi, permukaan air dalam kendipun berangsur-angsur naik dan bertambah tinggi hingga akhirnya air tersebut dapat dicapai oleh sang burung gagak.

Pemerah Susu dan Embernya

Seorang wanita pemerah susu telah memerah susu dari beberapa ekor sapi dan berjalan pulang kembali dari peternakan, dengan seember susu yang dijunjungnya di atas kepalanya. Saat dia berjalan pulang, dia berpikir dan membayang-bayangkan rencananya ke depan.

"Susu yang saya perah ini sangat baik mutunya," pikirnya menghibur diri, "akan memberikan saya banyak krim untuk dibuat. Saya akan membuat mentega yang banyak dari krim itu dan menjualnya ke pasar, dan dengan uang yang saya miliki nantinya, saya akan membeli banyak telur dan menetaskannya, Sungguh sangat indah kelihatannya apabila telur-telur tersebut telah menetas dan ladangku akan dipenuhi dengan ayam-ayam muda yang sehat. Pada suatu saat, saya akan menjualnya, dan dengan uang tersebut saya akan membeli baju-baju yang cantik untuk di pakai ke pesta. Semua pemuda ganteng akan melihat ke arahku. Mereka akan datang dan mencoba merayuku, tetapi saya akan mencari pemuda yang memiliki usaha yang bagus saja!"

Ketika dia sedang memikirkan rencana-rencananya yang dirasanya sangat pandai, dia menganggukkan kepalanya dengan bangga, dan tanpa disadari, ember yang berada di kepalanya jatuh ke tanah, dan semua susu yang telah diperah mengalir tumpah ke tanah, dengan itu hilanglah semua angan-angannya tentang mentega, telur, ayam, baju baru beserta susu kebanggaannya.

Saturday, January 10, 2009

Ketakutan

Pada suatu sore, Guru Zen mengajak dua muridnya untuk bermeditasi di hutan.

Setelah mereka bermeditasi beberapa saat, malampun tiba. Kegelapan mulai meliputi seluruh hutan dan suara-suara yang tidak menyenangkan pun bermunculan. Kedua muridnya mulai ketakutan dan terganggu konsentrasinya.

Mengetahui hal itu, Guru Zen berkata, "Murid-muridku, mengapa kalian takut pada suara-suara di luar? Bukankah yang paling menakutkan itu sesungguhnya adalah ketakutan yang ada di dalam pikiran kalian itu sendiri?"

Mendengar perkataan Guru Zen, kedua muridnya itu pun tercerahkan dan kembali melanjutkan meditasi mereka tanpa diliputi ketakutan lagi.

Sunday, January 4, 2009

Mengeluh

Suatu hari, seorang murid Guru Zen mengeluh kepada Sang Guru atas kelakuan kakak seperguruannya.

"Guru, aku mulai tidak suka akan kelakuan kakak seperguruan. Ketika berbicara, dia selalu membicarakan kejelekan orang lain. Bukankah hal itu tidak sepatutnya dilakukan oleh seorang murid Buddha?"

Mendengar keluhan muridnya itu, Guru Zen tersenyum dan menyuruhnya untuk bermeditasi mengamati batinnya.

Keesokan harinya, murid tersebut menghampiri Guru Zen.

"Guru, sewaktu meditasi, aku memperhatikan bahwa batinku dipenuhi dengan kebencian. Setelah bermeditasi agak lama akhirnya aku bisa mengendapkan kebencian itu. Namun, setelah kebencian itu mengendap, muncul kebingungan dalam batinku."

Mendengar hal itu, Guru Zen tersenyum dan menyuruhnya untuk melanjutkan meditasinya.

Keesokan harinya, murid tersebut kembali menghampiri Guru Zen.

"Guru, setelah bermeditasi agak lama, aku sudah bisa mengendapkan kebingungan dalam batinku. Setelah kebingungan mengendap, timbul rasa bersalah kepada kakak seperguruanku itu. Akupun menyadari bahwa aku tidak berbeda dengan orang yang kucela. Yang seharusnya aku lakukan adalah memperbaiki diriku sendiri."

Guru Zen berkata, "Bagus. Demikianlah seharusnya kamu harus melatih diri."

Friday, January 2, 2009

Barang Antik Jendral

Seorang jendral perang sedang mengagumi barang antiknya yang sangat berharga. Tiba-tiba barang antiknya itu tersenggol oleh anaknya yang sedang bermain. "Haiya!!! Hampir saja jatuh", sorak sang jendral dengan keringat bercucuran.

Kemudian dia berpikir, "Aku telah memimpin sepuluh ribu pasukan dalam medan perang dan tak pernah gentar menghadapi musuh yang ganas, bahkan aku tidak pernah takut mati. Mengapa aku begitu cemas hanya karena cangkir sekecil ini?"

Ia akhirnya menyadari bahwa kecintaan yang melekat, yang membawa rasa takut kehilangan itulah yang menimbulkan kecemasannya. Ia pun melempar cangkir itu melewati bahunya dan cangkir itu hancur.